Rabu, 26 Juni 2013

I dont feel witty

Some of my assignment from my favorite class, Gambar Dasar. All of these drawing are made on A2 sized paper. These are still-life, we have to make 5 drawings each class and must be done in than 4-5 hours, so we need to be quick!


Drawing our own shoes with crayon, we started to use color in second semester and this was the first assignment



Two of them are the earlier drawing in the first semester, made in Taman Ismail Marzuki with ballpoint


Taman Menteng, drawing pen


Galeri Nasional, drawing pen


Jembatan Manggarai/Slamet Riyadi, ballpoint



Two of those are final exam in the first semester, made in Pintu Air Manggarai with ballpoint

I got A+ for this class.  I dont know, maybe because my excitement and happiness projected to this class so it's some kind of a sweet reward



Blunt


A drawing I made for recent exhibition in my campus, has nothing to do with this post





I am currently reading Battle of the Mind by William Sargant (that I borrowed from a friend of mine, Tofan, and what hate the most is that I took him to my favorite book fleamarket and he found this damn good book first) it's about the science of indoctrination, brain-washing and thought controlling.  Reading this as part of my plan to make everyone agree that The Beatles is the best band in the world, J.K Rowling doesn't use ghostwriter (my biggest childhood's fear), and adding a pinch of salt to your orange juice is actually would make it tasted better, I found more interesting facts than I expected like stress makes you dumb, inhaling ether can solve your trauma, and the true magic of playing rough and ruthless to an emotionally fragile person (when most people are like "the only way to fix this is a heart-to-heart talk" "we're not going to yell and get angry anymore, we're modern people", you know what, fuck those shits you coward)

My friend, Dinda, invited me to teach street kids who sell tissue paper around University of Indonesia art, as one of her student development program.  She told me how those kids arent easy to manage, that they cant even read properly even though they are like 8 to 13 years old.  They didnt even take this generous program to educate them seriously, they only care about how to get those tissues sold at the end of the day.

I know nothing about teaching.  When one of the kids approached us to offered us the tissue, we started a little chit chat like what's her name, how old is she, does she go to school, and what does she does when she's not selling tissues. At first, she didnt show any fascination to those origami that we held.  She answered those hastily, and then asked us to buy the tissues. Then it just went out of my mouth without thinking: "I don't want to buy your tissues, I want to ask you to play with us"

She stunned and then she asked for the origami paper.


I was sort of surprised, I thought I was going to hurt her feeling, but suddenly she showed interests when folding those papers and asked our camera and started taking pictures.  I kept watching her and cant stop being skeptic and wondering what's on her mind, but she seem enjoyed and happy.


It might happened just once for that case, but I guess it's a popular fallacy that being strict and direct is a cruel and obsolete thing

Selasa, 25 Juni 2013

LOLOLOL, I POSTED IT FEW MONTHS AGO AND RECENTLY I SAW THE TRAFFIC FOR THIS POST GOT HIGHER AND I WAS LIKE "UH OH, THE JUNIORS MUST BE LURKING AT THIS ESSAY" AHAHAHAH, HELLO HELLO THERE JUNIORS!!

Perbandingan Mimesis, Ekspresi dan Formalisme


Dalam memahami seni rupa, ada beberapa hal mendasar seperti:  Apa itu seni rupa? Mengapa karya seni rupa diproduksi? Mengapa sesuatu yang dilihat dilukiskan? Mengapa kita harus melihat karya seni rupa? Bagaimana cara melihat suatu karya seni rupa? Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat terangkum dalam ilmu estetika, ilmu yang mempelajari tentang seni, keindahan, dan rasa.
Estetika memiliki peranan penting dalam membandingkan teori mimesis, ekspresi dan formalisme yang selanjutnya akan dibahas.  Teori-teori tersebut merupakan usaha untuk membekukan pengertian seni menjadi suatu pernyataan utuh yang tidak dapat dikuliti lagi.  Akan tetapi, selalu ada celah pada tiap teori yang menarik untuk dibahas dan menjadi topik dari esai ini.
Semua bermula dari Plato, yang dengan skeptis merasa tidak aman terhadap seni, terutama sastra, karena dianggap memberikan ilusi terhadap kenyataan asli, meskipun seni pada dasarnya meniru alam. Peniruan inilah yang disebut sebagai mimesis.  Kenyataan yang dihadirkan oleh para seniman tidak sama dan jauh dari kenyataan yang satu, yakni dunia yang diciptakan oleh Tuhan, sementara filsuf seperti Plato bergulat dalam mencari kebenaran.
Aristoteles, murid Plato, justru bertolakbelakang dengan pernyataan tersebut.  Beliau mengartikan mimesis sebagai kesempurnaan dan tiruan dari alam.  Dunia tidak permanen, seperti pendapat filsuf Yunani Kuno, Heraklitus, sehingga menurut Aristoteles seni bertugas untuk mengabadikan peristiwa-peristiwa dalam alam.  Eksagerasi pada karya seni dianggap penting (namun itulah ditakutkan oleh Plato), di mana permainan emosi para penonton yang membuat karya seni tersebut menarik terjadi karena hal-hal yang tidak terjadi pada dunia nyata ditampilkan.  Pengalaman estetik timbul karena keseimbangan persamaan dan kenyataan yang berlebihan tersebut.
Mimesis berkutat hanya pada karya seninya saja, sehingga posisi sang seniman menjadi tidak penting.  Di sinilah kekurangan dari teori mimesis, yang mengganggap semua karya seni meniru dari alam, tapi tidak mampu menghadirkan kenyataan yang sebenarnya.  Teori merupakan respon terhadap lingkungan yang ada.  Pada era kuno, para seniman dijadikan ”kuli” terhadap kekuasaan yang ada pada saat itu (untuk membuat kuil, patung-patung simbol, kisah-kisah heroik, dll) sehingga menjelaskan banyaknya karya-karya yang anonim.  Ekspresi personal belum menjadi perhatian yang luas.
Gambar 1. Sebuah lukisan anonim di Itali yang dibuat atas nama dinasti/era/agama, bukan perseorangan


Masuk era modern, para filsuf mulai mempertimbangkan teori ekspresi dalam seni rupa yang dipelopori oleh penulis Leo Tolstoy.  Tolstoy menulis esai “What is Art?” pada tahun 1897, yang merupakan kritiknya kepada pendapat tentang seni yang masih berputar pada baik, benar, dan keindahan.  Menurutnya seni harus memberikan hubungan emosi kepada penontonnya.  Beliau menekankan fungsi seni sebagai media komunikasi untuk menyampaikan suatu konsep moral.  Benedetto Croce, filsuf Italia, di kesempatan berbeda berpendapat yang sama dalam Breviario di estetica (The Essence of Aesthetic) tahun 1912, di mana beliau mengagung-agungkan seni dibandingkan sains, karena menurutnya hanya seni yang bisa memperbaiki akhlak manusia. Pernyataan Tolstoy dan Croce meninspirasi seorang  Robin George Collingwood muda, sehingga dalam bukunya The Principles of Art pada tahun 1958, beliau menyatakan seni adalah ekspresi dari emosi.  Seni merupakan bagian penting dari kesadaran manusia.  Pendapat-pendapat tadi senada pernyataan filsuf estetika ternama Hegel, yakni pikiran menyadari pikiran itu sendiri dalam proses berkesenian.
Konsep emosi inilah yang membedakan seni murni dengan kria.  Seni sebagai penyampai emosi tentu berbeda dengan kria yang diharuskan bersifat fungsional dan “menyelesaikan masalah” atau mengutamakan desain.  Dari sini jugalah yang menimbulkan beberapa pendapat kritikus modern bahwa lukisan potret tidak bisa dikelaskan sebagai seni, tetapi craft.
Kelebihan pengangkatan sisi personal ini juga merupakan kelemahan dari teori ini.  Lukisan potret juga bisa menjadi suatu lukisan yang bagus secara estetis, di mana para pelukis potret ternama juga merupakan pelukis hebat seperti Raphael dan Velasquez, Rembrandt dan Hals, Rubens dan Van Dyck, Reynolds dan Gainsborough (Talbot Rice, 1955, 23-24).  Lukisan yang komunikatif dan ekspresif juga mejadi rancu, karena konten artistik dari lukisan tidak dipentingkan.  


Gambar 3.Velazquez,  Pope Innocent X,1650
Mimesis menjawab masalah konten dari suatu karya seni, namun tidak bisa menerangkan proses dari sang seniman.  Teori ekspresi mengutamakan seni sebagai bagian dari keadaan psikologis manusia, tetapi gagal dalam mengutamakan isi dari hasil karya sang manusia.  Sekarang fokus berpindah dari apa itu seni-siapa yang melakukan, menjadi bagaimana hasil karya seni rupa itu?
Perhatian terhadap hasil dari karya seni rupa tersebut menghasilkan analisis terhadap bentuk atau form dan gaya yang ada pada karya tersebut.  Studi tersebut dinamakan formalisme. Pada formalisme, yang diutamakan adalah aspek visual, seperti warna, garis, volume, tekstur, komposisi, massa, dan jarak.  Aspek-aspek lain seperti unsur geografis, dorongan sang seniman atau sejarah menjadi tambahan, yang bertahap datang dengan sendirinya dalam proses memahami unsur-unsur visual tadi.  
Dengan standar tersebut, formalisme dirasa lebih “adil” sebagai teori untuk memahami seni, dibandingkan dengan mimesis dan ekspresi.  Formalisme mengangkat rupa dari karya seni tersebut,  sedangkan mimesis dan ekspresi memusatkan hal eksternal seperti objek dan subjek dari hasil karya seni tersebut.  Pada mimesis, seni menjadi terbatas karena yang ditiru hanya alam secara fisik, bentuk-bentuk abstrak dan imajinatif menjadi haram dalam paham ini.  Di ekspresi, hasil karya tidak menjadi yang utama, karena seni dilihat sebagai bagian dari kebutuhan psikologis, penumpahan emosi manusia pada sebuah media yang kasat mata.
Namun, bukan berarti mimesis dan ekspresi menjadi teori yang “salah”.  Teori-teori tersebut dapat diterapkan pada aliran-aliran seni rupa sebagai cara untuk melihat suatu karya seni.  Mimesis sering disebutkan bersamaan dengan realis dan naturalis, di mana yang kemiripan dengan benda-benda di alam yang menjadi kekuatan karya seni rupa tersebut.  Pada dua karya di kanan dan kiri, The Bathers karya Henry Scott Tuke, seniman asal Inggris dan Night Scene karya pelukis  Barok Peter Paul Rubens, memperlihatkan pendekatan yang sama dalam melukis, yakni detail, pengaturan gelap terang yang realistis.  Tak hanya sebatas figur, Lukisan Mooi Indie di bagian bawah juga menunjukkan usaha mimesis terhadap pemandangan alam di sekitar Gunung Galunggung.  Walaupun ketiga karya ini meniru alam, terdapat elemen-elemen artistik yang dirasa tidak bisa ditemukan di dunia nyata.  Pencahayaan dan pemilihan palet warna yang indah menjadi unsur eksagerasi yang dimaksud Aristoteles sehingga menghasilkan pengalaman estetis.  


Gambar 4. Henry Scott Tuke, The Bathers, 1888


Gambar 5. Peter Paul Rubens, Night Scene, 1617

Gambar 7. Pemandangan sekitar Gunung Galunggung, Lukisan Mooi Indie
Aliran Impresionis dan Ekspresionis dalam eksekusinya meniru alam, namun ada unsur ekspresi yang lebih kuat dibandingkan dengan karya-karya realis dan naturalis.  Sisi personal sang seniman terlihat dalam unsur-unsur visual yang ada dalam karya seni rupanya.  Ciri ekspresif bukan sekadar terlihatnya “kesewenang-wenangan” sang seniman, namun terlihat ketegasan, keberanian, intensi dari tiap goresan, pahatan, sapuan, semprotan, atau segala tindakan artistik sang seniman kepada karyanya.  Sebagai contoh, Andy Warhol menggunakan bahan tak lazim seperti urin sebagai salah satu material dalam karyanya.


Gambar 8. Andy Warhol menggunakan urin dalam karya potret Jean-Michel Basquiat-nya
Sampainya emosi sang seniman kepada penonton seperti yang dimaksudkan Tolstoy mungkin bisa digambarkan dengan salah satu lukisan paling fenomenal, The Scream karya Edvard Munch.  Munch sendiri mengaku lukisan tersebut melambangkan kelelahan emosionalnya, titik puncak dari depresinya.  Emosi dari lukisan tersebut sangat kuat hingga lukisan ini menjadi salah satu mahakarya ikonik, disebut-sebut sebagai interpretasi kegelisahan manusia modern, hingga menjadi salah satu lukisan paling mahal dalam sejarah perlelangan.


Gambar 9. Edvard Munch, The Scream, 1893
Camille Pissaro dan Paul Cezanne, dua seniman Post-Impresionis yang paling penting hingga sekarang, melukis still-life dalam lokasi yang sama di Orchard, Côte Saint-Denis, di Pontoise pada tahun 1877. Terdapat kualitas yang berbeda, meskipun dilakukan secara bersamaan di tempat yang sama.  Keduanya melakukan mimesis terhadap lanskap di Pontoise, namun karakter yang berbeda dari tiap seniman menghasilkan ekspresi dan form yang berbeda.  Pissaro melihat pemandangan tersebut sebagai titik-titik kecil gelap terang dengan warna-warna dingin, Cezanne melihatnya sebagai blok-blok berbentuk dengan warna hangat.  Pissaro melakukan pendekatan yang halus, terlihat dari perpindahan warna yang lembut dan garis-garis yang kurus dan kecil, Cezanne dengan impresi-impresi blok warna yang kasar, namun menjadi keindahan tersendiri.   



Gambar 10. (kiri) Paul Cezanne, (kanan) Camille Pissaro



Kesimpulan:
Teori-teori tersebut merupakan respon terhadap permasalahan yang ada pada masanya dan merupakan antithesis dari teori yang sebelumnya.  Masing-masing mememiliki kelebihan dan kekurangan.  Teori-teori tersebut tidak sepenuhnya salah, namun dapat dikombinasikan dan dijadikan alat analisis terhadap suatu karya seni.

Rabu, 09 Januari 2013

There's a Shanghai Noon screencap,you know, that Owen Wilson and Jackie Chan movie, about cowboy and a lost Chinese imperial guard, ah, just google it

I was angry because someone was looking down at me for being an art student, like:

G: Si xxxx mana ya?
X: Sibuk, Ges, dia sekarang kan (suatu jurusan IPA), Ges, tugasnya banyak..
G: Lah, tugas gue juga banyak...
X: Tapi kan beda, Ges, dia, mesti bikin ini.... bikin itu..
G: Lah, gue juga bikin ini bikin itu (coba lo ngerjain tugas gue, dalam hati)
X: Tapi kan kalo (suatu jurusan IPA) susah, blablablablabla(yang intinya, secara implsit bilang jurusan gue, seni rupa, itu ecek-ecek, gampang)...
G: *tired* *ngalihin topik*

There are too who were like thinking they are doing more serious works by taking engineering, politics, law, accounting and stuffs.  I felt insulted and pissed, until someday, I was in metro mini and looking at tukang parkir across the road. He made me realise that pekerjaan atau studi seseorang is actually the way they see life.  Me, as an art student, ngelihat hidup gak bisa lepas dari seni.  Anak-anak teknik, komunikasi, ilmu komputer dll will say the same with their majors.  Even orang yang ngambil pekerjaan/jurusan yang gak mereka suka have their way, that they get angry and see life as a cruel and unfair thing. Tukang parkir see the world as a bunch of vehicles to be arranged and located in a sufficient space, because, jeeez, imagine our city without a proper parking lot.  In other view, it does look arrogant, antropocentric, like a "mine is better than yours" "you do nothing without me" game.

That's why every jurusan always like "nanti ini bisa ke mana-mana", because you know, with that way of seeing life, they can always see the opportunity or place for the job in every thing.  Pabrik kancing baju will always said they're needed, because, well, not all people are nudist, have a sweet hairchest or fantastic boobs.  Abang-abang yang jual gelembung sabun di Kota Tua will say we would need his product, in our nephew's birthday, a property for stage performance, or just for having fun around.

 uno mas?

And then, that state of mind formed because the study or the job is how you dedicate yourself or taking part to this world, it is what we do most of the time.



I hate that this post sounds menggurui, like, girl, I am still on my puberty, I haven't even hit twenty, but it just that I hope people surround me have a better understanding, whatever this post apparently looks to you, so just stop ditch stuffs,  But then again, it's actually a selfish & immature request, so again, it's just about me, need to have a better understanding of this world.

Rabu, 02 Januari 2013

The True Crying Song


This song speaks for me.
More than his While My Guitar Gently Weeps-This Guitar Can't Keep From Crying-and Taylor Swift's Teardrops on My Guitar fused as one






yas bitchesss

I wanna have those poses

Cool people have that "J" pose





John Boyd Dunlop


Jean Paul Sartre
Oscar Wilde

Patrick-fucking-Stewart, the narrator of my daily life 
<patrickstewart'svoice> "As you can see, Gesya is now performing her usual  "yawn and sleep again" morning ritual" </patrickstewart's voice>



WOW, what a groundbreaking conspiracy!!!! What are those people trying to say??? Are they Jilluminati??? Forget about seeking triangles and eyes in American and way too good stuff, "J" is everywhere!!! In cool and awesome people??

What does "J" stand for?? Jesus? Judas? Jamaican, that the reggae cults are campaigning themselves??? or J-Lo??? Or my gay bestfriendforever, Jody aka Jojo???!?!??!?

Even he poses with the "J"!!!!

Beware of the "J"!!!!! It's in your mouse, phone, your curve, Oh, God, it's everywhere!!!!











This is actually my critic to those illuminati conspiracy theorists who like to connect stupid things and make a book or site out of it.  Such a creative way to get money though, but dont call yourself an intellectual


 





The Picker

I watched The Picker on History channel, I saw old Norman Rockwell's cover for the Post being sold with high price, how some fancy cafe using old advertisement for decoration, and then I realized, why dont I keep all of these random ads and cartoon in Kompas, my train tickets, my Kapal Api and Tora Bika's sachets, so someone in bajillion years later could make money with all of these junks. This thought is strengthen when a blonde old woman easily saying "Oh, It's a piece of art!!!!!!!!!" at a vintage mill stone.  Then my Nokia's charger would be a piece of art few decades later.


So it's possible, 2198 version of Mike Wolfe would be running his finger through my...... uhmuhmhuhmuhmuhm *dirty thoughts*

o mike, pick me, i was made in 1994, people see me as crap, but am a true rare and extinct being, i've googled my name, no one has the same name, and i was made in Sumatra, an exotic island, think about it